Scroll untuk baca artikel
Example 325x300
Example floating
Example floating
Example 728x250
BeritaDaerah

Diduga Pernah Terlibat Kasus Asusila, Oknum Guru di Halsel Diangkat Jadi Kepala Sekolah

158
×

Diduga Pernah Terlibat Kasus Asusila, Oknum Guru di Halsel Diangkat Jadi Kepala Sekolah

Sebarkan artikel ini

KABARINDONESIANEWS.COM Kabar tidak menyenangkan kembali mencuat dari dunia pendidikan di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Maluku Utara. Seorang oknum guru yang sebelumnya diduga terlibat kasus asusila terhadap murid pondok pesantren dikabarkan akan diangkat sebagai Kepala Sekolah Dasar Negeri (SDN) 252 Desa Luin, Kecamatan Gane Timur Tengah.

Oknum guru tersebut berinisial AS, yang akrab disapa Ateng. AS diketahui berdomisili di Desa Bisui dan hingga kini masih aktif mengajar di SDN 252, sekaligus menjadi tenaga pengajar di salah satu pondok di desa tersebut.

Example 300x600

Nama AS sebelumnya sempat menjadi sorotan publik setelah diduga melakukan percobaan tindakan asusila terhadap seorang murid pondok berinisial EM (13). Peristiwa itu dilaporkan terjadi pada Januari 2026 dan sempat menghebohkan masyarakat setempat.

Berdasarkan pemberitaan sejumlah media pada 12 Januari 2026, AS diduga mengajak korban bertemu secara diam-diam pada tengah malam sekitar pukul 00.00 WIT di Pelabuhan Bisui. Ajakan tersebut dilakukan dengan cara tidak wajar, yakni AS disebut mengetik sendiri pesan di ponselnya, kemudian membacakan isi pesan tersebut kepada korban, termasuk waktu dan lokasi pertemuan. Korban juga diduga diiming-imingi sejumlah uang agar bersedia memenuhi ajakan tersebut.

Namun, kasus tersebut tidak berlanjut ke proses hukum. Persoalan itu diselesaikan melalui mediasi secara kekeluargaan antara pihak terduga pelaku dan keluarga korban. Dalam proses mediasi tersebut, keluarga korban sempat meminta ganti rugi sebesar Rp50 juta, namun karena keterbatasan kemampuan pihak AS, disepakati kompensasi sebesar Rp15 juta.

Meski diselesaikan secara damai, dampak psikologis terhadap korban tetap dirasakan. Korban EM diketahui memilih pindah sekolah akibat trauma atas peristiwa yang dialaminya.

Dugaan perbuatan tidak senonoh tersebut dinilai seharusnya menjadi bahan evaluasi serius bagi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan, mengingat menyangkut etika profesi guru serta keselamatan peserta didik. Namun, kabar pengangkatan AS sebagai kepala sekolah justru menimbulkan kekhawatiran baru di tengah masyarakat.

Sejumlah orang tua siswa mengaku resah dengan informasi tersebut. Salah satu orang tua murid yang enggan disebutkan namanya berharap Dinas Pendidikan dapat meninjau ulang rencana pengangkatan tersebut.

“Kami sangat khawatir. Jika yang bersangkutan tetap diangkat menjadi kepala sekolah, jangan sampai kejadian serupa terulang dan membahayakan anak-anak kami,” ujarnya.

Hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Halmahera Selatan, Siti Khodijah, M.Ag, belum memberikan keterangan resmi. Upaya konfirmasi dari wartawan masih terus dilakukan terkait kebenaran informasi pengangkatan kepala sekolah tersebut.

Kaperwil Malut: (SM)

Example 300250

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

You cannot copy content of this page