KABARINDONESIANEWS.COM – Ikatan Pelajar Mahasiswa Gumira (IPMAG) Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, resmi menggelar kegiatan Safari Ramadan yang telah dimulai beberapa pekan lalu dan kini memasuki hari keenam pelaksanaan.
Kegiatan yang dipusatkan di Desa Gumira tersebut menjadi ajang silaturahmi sekaligus penguatan nilai-nilai keagamaan dan sosial di tengah masyarakat.
Ketua Umum IPMAG, Siti Rizky A. Torano, dalam sambutannya menegaskan bahwa Ramadan merupakan momentum universal untuk mempererat persaudaraan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, khususnya di tingkat desa.
Menurutnya, di tengah kehidupan masyarakat yang majemuk, bulan suci menjadi pengingat pentingnya menjaga persatuan. Perbedaan latar belakang, suku, maupun pandangan politik, kata dia, tidak boleh menjadi penghalang untuk menebar kebaikan.
“Melalui acara ini, kami ingin menunjukkan bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk duduk bersama, berbagi takjil, dan menebar kemaslahatan,” ujarnya di hadapan warga.
Soroti Tantangan Generasi Muda
Dalam kesempatan tersebut, IPMAG juga menyoroti fenomena sosial yang berkembang di kalangan generasi muda. Organisasi ini menilai adanya pergeseran nilai akibat ketergantungan terhadap teknologi, khususnya permainan daring (game online), yang dinilai berpotensi menjauhkan generasi muda dari nilai-nilai lokal.
Siti Rizky menegaskan bahwa Safari Ramadan tahun ini tidak difokuskan sebagai ajang perlombaan semata, melainkan sebagai sarana edukasi dan pembinaan karakter.
“Safari ini merupakan ajang mengasah potensi edukasi generasi muda yang kian tergilas zaman. Ada ancaman pada aspek moralitas dan pergaulan ketika generasi lebih fokus pada game online daripada pengembangan diri,” tegasnya.
Dorong Transparansi dan Pembangunan Desa
Selain isu kepemudaan, IPMAG juga memberikan catatan terhadap kondisi desa saat ini. Siti menyebut situasi tersebut sebagai tantangan yang memerlukan perubahan nyata dalam sistem pemerintahan desa.
IPMAG mendorong kolaborasi yang lebih sehat antara pemerintah desa dan masyarakat melalui tiga pilar utama, yakni kerja sama lintas sektor dalam pembangunan desa, keterbukaan informasi publik terkait kebijakan desa, serta tanggung jawab dalam pengelolaan aset dan anggaran desa.
Mengacu pada regulasi Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi (Kemendesa PDTT), ia menekankan bahwa pembangunan desa tidak hanya berorientasi pada infrastruktur fisik, tetapi juga pembangunan sumber daya manusia.
IPMAG, lanjutnya, berkomitmen menjadi mitra kritis sekaligus penggerak kemajuan desa melalui jalur pendidikan dan pelestarian tradisi lokal.
“Tradisi lokal adalah momentum sakral. Ini adalah langkah IPMAG untuk mendorong lahirnya generasi Gumira yang lebih baik dan tetap berpegang pada akar budaya,” pungkasnya.
Kaperwil Malut: (SM)

















