KABARINDONESIANEWS.COM – Pelayanan PT PLN (Persero) di wilayah Oba Selatan, Kota Tidore Kepulauan, Provinsi Maluku Utara, kembali menuai kecaman dari masyarakat. Pemadaman listrik yang kerap terjadi tanpa pemberitahuan, khususnya saat sahur dan menjelang berbuka puasa di awal Ramadan, memicu kekecewaan warga.
Sejumlah warga Desa Hager yang enggan disebutkan namanya menyampaikan keluhan kepada wartawan melalui sambungan telepon, Jumat (27/2/2026). Mereka menyebut pemadaman berlangsung berjam-jam tanpa sosialisasi maupun informasi resmi dari pihak PLN.
“PLN yang berpusat di Sofifi ini seakan tidak peduli dengan penderitaan masyarakat. Listrik mati saat sahur dan menjelang buka puasa, ini sangat keterlaluan.
Bahkan sejak Jumat pagi pukul 10.00 WIT hingga saat ini belum juga menyala. Kami merasa tidak dihargai sebagai pelanggan yang rutin membeli token listrik dan membayar pajak setiap bulan,” ujar salah satu warga.
Menurutnya, sebagai konsumen, masyarakat berhak mendapatkan pelayanan maksimal. Jika terjadi gangguan teknis atau pemadaman terencana, seharusnya ada pemberitahuan resmi agar warga dapat melakukan antisipasi.
“Setidaknya pihak PLN harus menginformasikan jadwal pemadaman secara terbuka. Jangan dilakukan sepihak. Kami khawatir barang elektronik rusak akibat listrik yang mati-nyala,” tambahnya.
Dampak Sosial dan Layanan Kesehatan
Kritik serupa juga datang dari warga Desa Lifofa, Kecamatan Oba Selatan. Mereka menilai manajemen pelayanan publik PLN di wilayah Sofifi sangat buruk dan merugikan masyarakat.
“Pemadaman sepihak ini sangat merugikan kami. Kalau begini terus, lebih baik kepala PLN di Sofifi diganti saja. Kinerjanya tidak profesional dan tidak bertanggung jawab,” tegas seorang warga.
Warga lainnya menyoroti dampak sosial yang ditimbulkan, terutama di bulan Ramadan. Pemadaman disebut terjadi saat waktu ibadah Magrib, Isya, hingga Subuh. Bahkan, kondisi tersebut turut mengganggu pelayanan kesehatan di Puskesmas Oba Selatan ketika tenaga medis harus menangani pasien.
“Kondisi menyiapkan berbuka puasa dan sahur tanpa listrik sangat sulit. Ini berdampak pada anak-anak, orang tua, dan seluruh masyarakat. Ini bukan sekadar gangguan biasa, tapi bentuk kelalaian pelayanan publik,” ujarnya.
Sorotan terhadap Pemadaman Bergilir
Masyarakat juga mempertanyakan sistem pemadaman bergilir yang dinilai tidak adil. Mereka menyebut wilayah Oba Selatan, Kecamatan Oba, serta sejumlah desa pesisir di Gane Barat Utara seperti Desa Batualak, Desa Gumira, Desa Posi-Posi, Desa Samat, dan Desa Samo lebih sering mengalami pemadaman dibanding wilayah lain yang terhubung dengan jaringan listrik dari Sofifi.
“Kalau memang bergilir, harus adil. Jangan hanya Kecamatan Oba, Oba Selatan, dan Gane Barat Utara yang hampir setiap hari dijadikan korban mati lampu.
Kami juga warga negara yang punya hak mendapatkan pelayanan yang baik, apalagi di suasana Ramadan yang sangat penting ini,” ungkap warga lainnya.
Desakan Evaluasi
Atas kondisi tersebut, warga mendesak pimpinan PLN Rayon di Provinsi Maluku Utara segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kinerja penanggung jawab PLN di Sofifi. Mereka meminta adanya perbaikan sistem pelayanan serta transparansi informasi kepada publik.
“Kami meminta Kepala PLN Rayon di Maluku maupun Provinsi Maluku Utara segera mengevaluasi dan mencopot penanggung jawab PT PLN UP3 Sofifi berinisial YK karena dinilai gagal memberikan pelayanan maksimal kepada masyarakat,” tandasnya.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak PLN UP3 wilayah Sofifi masih dalam upaya konfirmasi awak media dan belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pemadaman listrik yang dikeluhkan warga
Kaperwil Malut: (SM)

















